Jumat, 15 November 2013

Banjir ?? Siapa Takut!!



Banjir? Siapa Takut!!
            Banjir merupakan tamu istimewa bagi warga ibukota yang datang dengan membawa rasa takut dan resah. Tak pelak banjir menjadi problematika yang selalu menjadi agenda utama dalam setiap Kepengurusan Kepala Daerah di Jakarta yang  harus cepat diselesaikan.  Banjir sendiri selalu membuat kota Jakarta seperti kota mati, dimana setiap roda kehidupan tidaklah bisa berjalan secara normal.  Banjir dijakarta sendiri terjadi karena tipografi tanah dari Jakarta yang lebih rendah dari pada permukaan air laut. Sehingga memungkinkan air dari daerah yang lebih tinggi seperti Bogor dan Depok akan mengalir ke Jakarta. Selain masalah tersebut, banjir juga disebabkan karena gaya hidup masyarakat yang buruk serta penataan ruang kota yang berantakan .
            Gaya Hidup masyarakat yang suka membuang sampah dan limbah rumah tangga kedalam sungai menjadi masalah utama yang menyebabkan banjir. Dimana Limbah rumah tangga dan sampah tersebut mengganggu aliran air dan menghilangkan fungsi air karena terkena pencemaran. Sedangkan Penataan ruang kota yang berantakan menjadikan sistem resapan dan drainase yang digunakan untuk mengurangi resiko banjir juga sangat minim bahkan hampir tidak ada.
             Oleh dari itu Kementerian PU dalam hal ini memberikan beberapa solusi agar masalah banjir bisa diatasi yaitu
1.        Pembuatan Polder 
            Secara singkat Polder (sendiri adalah  suatu cara penanganan banjir/rob dengan kelengkapan sarana fisik yang meliputi : drainase, kolam retensi, pompa air dan pintu air, sebagai satu kesatuan pengelolaan tata air. Manajemen sistem tata air dilakukan dengan mengendalikan volume, debit, muka air, tata guna lahan dan lansekap. 
Sistem Polder sendiri mempunyai beberapa kelebiha dan kekurangan yaitu
Keunggulan :
Sistem Polder mampu mengendalikan banjir dan genangan akibat aliran dari hulu, hujan setempat dan naiknya  muka air laut (ROB).

Kelemahan :
a.       Bekerjanya sistem ini sangat bergantung pada pompa. Jika pompa mati, maka kawasan akan tergenang.
b.      Biaya operasi dan pemeliharaan relatif mahal.

2.      Resapan Air 
      Resapan air sendiri digunakan agar debit air yang banyak di permukaan tanah bisa meresap kedalam tanah. Bentuk bangunan peresap bisa berupa : sumur peresap, parit peresap, perkerasan lulus air, saluran drainase berlubang, situ, retensi dilapangan parkir, dsb. Dipilih berdasarkan tujuan penerapan bangunan peresap, kondisi alam dan lingkungan pada daerah sekitar rencana lokasi, aspek keamanan, estetika, dan biaya yang tersedia, salah satu contoh dari peresap air adalah SaRASS.
     SaRASS (Sarana Resapan Air Sangat Sederhana)  sendiri dibangun seperti Sumur mini yang dibuat seperti corong, yang mana air akan masuk kedalam sumur mini tersebut sehingga air akan tersaring dalam tanah
                           Langkah 1                                          Langkah 2

 
                          Langkah 3                                           Langkah 4 


                                          Hasil nya



      Untuk mengkaji tentang suatu daerah yang kumuh maka Kementerian PU  ) mengembangkan sebuah database penghitung tingkat kekumuhan permukiman. Aplikasi yang diberi nama Database Permukiman Padathuni Kumuh ini dibuat berdasarkan temuan hasil litbang yang dilakukan pada tahun 2010-2011 tentang Pengkajian Penataan Kembali Permukiman Padathuni-kumuh (PHK) oleh Puslitbang Permukiman PU.
      Dengan adanya kegiatan ini maka kita bisa mengidentifikasi daerah mana saja yang tidak tertata dengan rapi. Dimana daerah tersebut rawan akan minimnya infrastruktur tentang pencegah banjir sehingga membuat masyarakat akan lebih tinggi resikonya terkena banjir. Selain itu dengan pemetaan ini, bisa memberikan informasi kepada elemen bangsa untuk memberikan edukasi-edukasi pada masyarakat tentang penting nya sungai dan akibat yang ditimbulkan jika fungsi sungai sudah hilang. Dengan adanya pemetaan ini maka diharapkan bisa memberikan solusi dari masalah yang dihadapi, terutama dalam infrastruktur penanggulangan banjir serta dinamika sosial lainnya.

      sistem peringatan dini berbasis masyarakat yang telah dikembangkan di S. Jeneberang. Sistem ini menggunakan alat komunikasi radio2 meteran untuk komunikasi antar pos, sedangkan komunikasi dari pos ke warga menggunakan sirine manual dan kentongan. Dengan sistem ini diharapkan masyarakat sendiri dapat mengoperasikan dan memelihara nya sehingga kesiapan menghadapi bencana dapat terjaga dan membuat masyarakat merasa lebih aman hidup selaras derdampingan dengan bencana.

      Dengan cara-cara inovatif yang dikembangkan oleh Kementerian PU diatas, merupakan langkah yang besar dalam antisipasi bencana banjir nasional. Karena cara-cara diatas adalah sebagai upaya minimalisir terjadinya bencana banjir sehingga Banjir yang selalu melanda Jakarta setiap tahun tidak menjadi momok yang menakutkan kembali dan aktifitas masyarakat bisa berjalan secara normal. Jadi kalau banjir akan datang? Siapa takut!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar